Reaktualisasi Tradisi ilmiah islam

Reaktualisasi Tradisi ilmiah islam
Author: Mulyadhi Kartanegara
Language Indonesian
Pages: 225
ISBN10: 9799832640
Genre: Uncategorized
Goodreads Rating: 4.00
Published: June 1st 2006 by Baitul Ihsan

Begitu pentingnya sebuah tradisi ilmiah, sehingga Barat memulai kemajuannya dengan hal itu. Tentu kita masih ingat pada masa renaisans, khususnya pada masa Francis Bacon, Barat sudah mempunyai tradisi ilmiah yang kuat dan mengakar. Landasan-landasan teoritis dan praktis telah berkembang dengan pesat. Orang-orang Barat, saat ini, maju di bidang ilmu pengetahuan, sebab mereka memiliki tradisi ilmiah yang mereka bangun dan bina sejak masa renaisans itu. Oleh karenanya, tak heran jika Barat maju secara revolusioner dalam bidang sains dan teknologi. Dan, ternyata, implikasinya tidak hanya pada dua bidang itu, tetapi pada ruang-ruang yang lain. Sebut saja ruang pendidikan, kesehatan, pembangunan, dan lain sebagainya. Seperti halnya Barat, Islam pun mempunyai catatan sejarah yang gemilang di bidang ilmu pengetahuan.

Dan, hal itu ternyata tidak terlepas dari tradisi ilmiah yang mengakar dalam Islam. Yang memang tradisi ilmiah tersebut tidak sama dengan Barat. Sebab, Islam memiliki ciri tersendiri dalam mengembangkan ilmunya. Islam mempunyai sumber pengetahuan yang sangat banyak. Dalam wahyu Tuhan, dijelaskan bahwa ada ayat-ayat berupa teks dan alam. Keduanya ciptaan Tuhan yang harus digali berdasarkan perumusan landasan-landasan teori yang bisa dikembangkan oleh manusia dengan menggunakan akalnya. Oleh karenanya, dalam Islam, ilmu pengetahuan berkembang begitu luas dan komprehensif. Demikian. Mereka telah mencapai kemajuan ilmiah yang fantastik pada abad pertengahan. Para sarjana muslim itu memang telah memiliki tradisi ilmiah yang khas dan tak sama dengan Barat.

Sementara itu, tak ada sumbangan ilmiah yang berarti bagi peradaban dunia dari bangsa kita ini. Diduga kuat, disebabkan oleh tidak dimilikinya oleh bangsa ini, sebuah tradisi ilmiah tertentu yang mapan dan cocok dengan sistem keparcayaan dan nilai budaya bangsa ini. Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara menulis, dalam bukunya ini, bahwa tradisi ilmiah Islam bisa bertindak dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, bagaimana sebuah tradisi ilmiah dibangun, dikembangkan, dan dipertahankan dari satu generasi ke generasi lainnya. Beberapa contoh spektakuler dari prestasi ilmuwan-ilmuwan muslim dipaparkan dalam buku ini dengan tutur bahasa yang renyah dan mudah dipahami. Maksudnya supaya kita bisa mengerti dengan jelas mengapa mereka maju dan terkenal, sedangkan umat Islam di Indonesia tidak? Misalnya, dikatakan bahwa Muhammad bin Jarir al-Thabari, menulis sebanyak 40 halaman setiap hari selama 40 tahun. Ini berarti, jika dirata-ratakan satu bulannya 30 hari, beliau, selama 40 tahun, telah menulis sekitar 576.000 halaman. Berapa jilid buku yang telah dihasilkannya? Tak heran, jika ia sangat terkenal dan memberikan kontribusi yang signifikan pada bidang yang ditekuninya. Nah, jika kebanyakan kita, di sini, tidak pernah menulis satu halaman pun selama bertahun-tahun, maka tak perlu heran jika kita tak pernah maju dalam ilmu. Mengapa mereka begitu gemilang? Dari beberapa faktornya adalah dorongan agama Islam yang telah menjadi hal penting bagi terciptanya kondisi yang kondusif bagi pencarian ilmu. Sebab, agama Islam, bukan hanya membolehkan pencarian ilmu, tetapi juga mewajibkannya. Ada semacam keidentikkan antara ketaatan pada agama dengan pencarian ilmu. Semakin taat seseorang pada agamanya, semakin kuat motivasinya menuntut ilmu. Itulah gambaran para pendahulu kita yang karya-karyanya akan terus dikenang sebagai sumber pencerahan bagi umat Islam dan umat lainnya di kemudian hari. Dalam bukunya ini, pak Mulyadhi, memaparkan berbagai hal yang berkenaan dengan tradisi ilmiah dalam delapan bab. Mulai dari tantangan umat, faktor pendorong ilmu, lembaga pendidikan, sistem pendidikan, kegiatan-kegiatan ilmiah, penelitian ilmiah, metode-metode ilmiah yang dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan muslim, dan menutupnya dengan mereaktualisasikan tradisi ilmiah tersebut dalam konteks Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam.

Dari sana, ada yang menarik untuk kita kaji lebih jauh. Indonesia yang dulu termasyhur dalam mengelola pendidikan itu – misalnya, dulu, Negara tetangga kita, Malaysia, belajar masalah pendidikan pada Indonesia. Namun, ironisnya, sekarang kemajuan pendidikannya melebihi kita – sudahkah menghasilkan sebuah peradaban Islam lokal Indonesia yang gemilang? Berapa tokoh cendekiawan yang dilahirkan dari rahim perguruan tinggi kita? Mengapa sekarang kualitas pendidikan kita merosot? Sistem pendidikan kita sekarang, tentu saja, lebih bagus daripada yang digunakan pada masa lalu di dunia Islam. Namun, mengapa sistem yang sehebat itu tidak menghasilkan tokoh-tokoh hebat seperti al-Ghazali, Fakhruddin al-Razi, atau Ibnu Taimiyah dan Ibnu Khaldun? Mungkin, ada kekeliruan mendasar dalam penyusunan kurikulum dan metode pengajaran.

Atau, ada yang salah dari motivasi para pendiri lembaga pendidikan, pendidik, dan anak didiknya. Hal ini menjadi poin penting untuk dicarikan solusinya melalui penelaahan kembali tradisi masa lalu yang bisa digunakan untuk membangun kembali paradigma pendidikan kita. Berkaca pada tradisi ilmiah para cendekiawan muslim yang gemilang itu, kita harus memosisikan kembali orientasi pendidikan kita. Dengan bercermin pada tradisi pengembangan keilmuan para guru agung yang gemilang pada masa klasik Islam itu, kita akan membangun paradigma baru pendidikan Islam. Sehingga kita bisa menaruh harapan, bangsa yang mayoritas Islam ini, akan bangkit kembali dari tidur lelapnya. Dan, bangsa ini akan menjadi besar dan bermartabat, bukan hanya di mata manusia, tetapi juga di mata penciptanya.